CHANGE COLOR
  • Default color
  • Brown color
  • Green color
  • Blue color
  • Red color
CHANGE LAYOUT
  • leftlayout
  • rightlayout
SET FONT SIZE
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Customise your homepage

sekolah kesehatan

Home

Rokok & Alkohol

E-mail Print PDF
smoking Merokok sudah menjadi bagian dari gaya hidup orang muda di kota metropolitan. Begitu juga dengan konsumsi minuman beralkohol. Dua kebiasaan itu merupakan faktor risiko terjadinya osteoporosis.   Itu berarti para orang muda itu terancam osteoporosis dini.
    * Perokok Meningkat

    * Osteoporosis atau pengeroposan tulang yang ditandai dengan penurunan kepadatan tulang yang cepat serta penipisan jaringan tulang, kerap dihubungkan dengan perempuan dan usia lanjut.
    * Padahal faktor risiko terjadinya osteoporosis bukan karena usia saja. Merokok atau mengkonsumsi alkohol pun menjadi faktor pemicu timbulnya osteoporosis. Tak heran kalau eksekutif muda, termasuk pria, juga bisa terancam osteoporosis dini.

Tidak bisa disangkal kalau jumlah perokok aktif di Indonesia kian hari kian bertambah. Tidak hanya pria tapi juga perempuan. Gaya hidup tidak sehat seperti itu ditambah kurangnya olahraga, akan memperbesar terjadinya osteoporosis. 

Dengan kondisi seperti ini, jumlah penderita osteoporosis di kalangan usia muda bisa terus bertambah. Walaupun saat ini jumlahnya tidak sebanyak pada orang lanjut usia. Sayangnya, tidak terdapat data epidemiologis tentang besaran masalah ini.

Pemeriksaan densitas mineral tulang (DMT) yang dilakukan oleh PT New Zealand Milk terhadap 17 ribu penduduk, perempuan dan pria, di 14 kota besar di Indonesia, juga belum bisa memberi gambaran menyeluruh atas penyakit yang disebut sebagai silent disease tersebut.

Namun beberapa fakta yang bisa menjadi acuan menunjukkan keadaan yang sangat serius. Anggap saja pada usia produktif, angka kemungkinan penderita osteoporosis masih sangat kecil. Tapi sejalan dengan meningkatnya umur, angka kejadiannya bisa bertambah besar.

Gambaran kasar yang didapat dari pemeriksaan DMT tadi memperlihatkan bahwa pada umur 45-49, perbandingan perempuan yang terkena osteoporosis masih 1:10. Pada usia 50-54, sudah 2 di antara 10. Tapi begitu usia 70 tahun atau lebih, angka kejadiannya sudah menjadi 7 di antara 10 perempuan terkena osteoporosis.

"Itu berarti risikonya meningkat 7 kali lipat. Data tersebut memang tidak representatif karena yang diperiksa hanyalah orang yang datang. Sampelnya tidak bervariasi. Tapi setidaknya gambaran ini menunjukkan bahwa osteoporosis sudah ada di mana-mana," ujar DR. Abas Basuni Jahari, MSc., ahli gizi dari Puslitbang Gizi Depkes RI.

Dari hasil pemeriksaan DMT didapat bahwa jumlah penderita osteoporosis usia produktif (25 - 34 tahun) sekitar 6 persen. Di mana jumlah pria lebih banyak dibandingkan perempuan. Kondisi itu diduga karena faktor gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok dan mengasup minuman beralkohol.

"Orang yang suka merokok dan minuman beralkohol, biasanya sering lupa makan. Hal ini terjadi karena minuman alkohol menimbulkan efek kenyang. Kalau sudah begitu, asupan kalsiumnya tentu saja akan berkurang," ujar doktor lulusan Cornell University, Amerika Serikat.

Tiga Serangkai

  • Pola makan orang muda yang cenderung ke arah makanan cepat saji dan tidak beragam juga ikut menyumbang besarnya risiko osteoporosis. Makanan tersebut cenderung tidak dapat mencukupi kebutuhan kalsium yang diperlukan tubuh.

Kalsium merupakan mikro nutrien. Jumlah yang dibutuhkan tubuh hanya sekitar 1000 - 1200 mg per hari, tapi kehadirannya sangat diperlukan. Kalsium tidak bisa berdiri sendiri dalam menjalankan tugasnya. Untuk menghasilkan tulang yang baik dan kuat, setidaknya diperlukan tiga komponen besar pembentuknya. Selain kalsium, diperlukan juga fosfat atau fosfor serta vitamin D.

Kalsium yang berlebih tanpa kehadiran fosfat, tidak akan membentuk tulang dengan baik, bahkan akan dibuang percuma. Sebaliknya bila fosfat berlebih sedangkan jumlah kalsium kurang, maka kekurangannya akan diambil dari tulang supaya jumlahnya seimbang dalam darah. Jika sudah demikian, kalsium pada tulang akan berkurang. Hal ini juga tidak baik bagi tulang tersebut. Karena itulah jumlah keduanya harus seimbang.

"Pembentukan tulang akan bagus apabila rasio kalsium dengan fosfat seimbang. Dan juga vitamin D. Fosfat ini bisa berasal dari makanan. Semua zat-zat tersebut ada dalam makanan," tambah staf pengajar di SEAMEO-Tropmed RCCN UI ini.

Untuk ukuran Indonesia yang berada di wilayah tropis, jumlah kebutuhan vitamin D bisa tercukupi. Paparan sinar matahari pagi selama 10-15 menit, sudah mampu mencukupi kebutuhan vitamin D bagi tubuh. Sayangnya, masyarakat Indonesia saat ini cenderung menghindari sinar matahari. Padahal gaya hidup seperti itu malah memperbesar kemungkinan terkena osteoporosis.

Menurut Dr. Bambang Setiyohadi, Sp.PD-KR, konsulen rematologi RSCM, "Gaya hidup penduduk Indonesia sekarang ini lebih banyak yang menghindari sinar matahari karena takut hitam." Padahal sinar matahari sangat diperlukan untuk pembentukan vitamin D yang berguna bagi tulang.

Paparan sinar matahari yang baik adalah pada pukul 06.00-09.00. Sebaiknya tubuh yang terkena sinar matahari, terutama bagian tangan tidak dilindungi tabir surya maupun pakaian berlengan panjang, supaya pembentukan vitamin D tidak terhalang.

Mudah Dicegah

  • Kondisi Indonesia yang kaya akan sinar matahari serta makanan yang bergizi, sebetulnya mempermudah upaya pencegahan osteoporosis. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang serta bervariasi.

Tidak perlu mahal. Ikan teri misalnya, bisa menjadi pilihan untuk pemenuhan kebutuhan kalsium. Selain itu, konsumsi sayuran yang tinggi kalsium juga bisa dilakukan. Namun perlu dipertimbangkan adanya asam oksalat yang bisa menghambat penyerapan kalsium.

"Tapi itu jumlahnya tidak seberapa," terang DR. Abas. Terlalu banyak serat juga bisa menjadi faktor penghambat penyerapan kalsium. Namun lagi-lagi, asupan serat di Indonesia juga masih di bawah kebutuhan. Sebagai gambaran, dalam satu hari setiap orang setidaknya butuh 25-30 gram serat, tetapi baru terpenuhi sekitar 15 gram.

Mengkonsumsi susu juga bisa menjadi pilihan untuk menambah asupan kalsium. Saat ini sudah banyak sekali susu berkalsium tinggi yang beredar di pasaran. Tidak hanya itu, karena susu kedelai pun bisa dijadikan sumber kalsium.

Dan yang terpenting, mulailah untuk bergaya hidup sehat. Banyak berolahraga, terutama olahraga beban bisa mencegah terjadinya osteoporosis. Olahraga pembebanan sangat baik untuk karena dapat meningkatkan kepadatan tulang dan mengurangi risiko terjadinya fraktur.

Pembebanan juga bisa meningkatkan massa otot yang melindungi tulang dari sakit, lalu memperbaiki mobilitas dan keseimbangan tulang. Dengan begitu Anda bisa dengan bebas bergerak tanpa perlu khawatir terjadi luka bila terjatuh.

Selain itu olahraga aerobik, joging, jalan kaki, baik untuk kesehatan tulang. Namun bila sudah terjadi osteoporosis, hendaknya tidak melakukan olahraga tersebut. Karena saat melakukan joging misalnya, kaki akan menahan 3,5 kali berat badan. Hal itu tidak baik bagi tulang yang rapuh. Lebih baik berjalan kaki saja.

Selain giat berolahraga, kebiasaan buruk seperti merokok dan konsumsi minuman beralkohol tentu harus ditinggalkan. Merokok memang gaya, tapi kalau sudah terkena osteoporosis apa masih bisa gaya?

Tanda-tanda osteoporosis

  • Rasa sakit pada leher
  • Rasa sakit pada tulang
  • Tulang mudah retak
  • Tubuh yang bungkuk
  • Sakit punggung
  • Kehilangan tinggi badan

Faktor Risiko Osteoporosis

  • Rokok dan minuman beralkohol merupakan dua faktor risiko terjadinya osteoporosis. Faktor risiko lainnya, disebut DR. Abas Basuni Jahari, MSc., ahli gizi dari Puslitbang Gizi Depkes, adalah genetik, perempuan, masalah kesehatan kronis, penurunan hormon estrogen pada perempuan, kurang olahraga dan kurang kalsium.
  • Secara genetik, bila dalam satu keluarga terdapat riwayat osteoporosis, kemungkinan anggota keluarga lain menderita osteoporosis adalah sekitar 60-80 persen.
  • Perempuan. Sekitar 80 persen penderita osteoporosis adalah perempuan. Saat ini sekitar 10 juta orang Amerika diperkirakan telah mengalami penyakit tersebut Dari 10 juta penderita tersebut, 8 juta diantaranya adalah perempuan.
  • Masalah kesehatan kronis. Penderita asma yang menggunakan obat-obatan jenis kortikosteroid berisiko mengalami osteoporosis. Selain itu risiko terkena osteoporosis juga meningkat pada penderita diabetes, hypertiroidism, penyakit hati atau rheumatoid arthritis.
  • Kekurangan hormon. Pada perempuan, kejadian menopause yang menyebabkan berkurangnya hormon estrogen bisa menyebabkan terjadinya osteoporosis. Terapi sulih hormon (TSH) bisa menjadi pilihan untuk mengatasi kekurangan hormon estrogen. Hanya saja, untuk melakukan TSH harus dikonsultasikan kepada dokter terlebih dahulu. Beberapa jenis perawatan medis pada pria juga dapat mengakibatkan defisiensi hormon sehinga mengakibatkan osteoporosis.
  • Kurang berolahraga.
  • Kurang kalsium. Data survei nasional menunjukkan asupan kalsium pada masyarakat Indonesia masih kurang. "Intake kalsium kita paling tidak baru 400-500 mg per hari. Berarti masih setengah dari kebutuhan," tutur DR. Abas.
  • Indeks massa tulang yang rendah. Garis hitam yang muncul pada hasil x-ray tulang bisa mengindikasikan sudah terjadi penipisan tulang.
  • Berat badan kurang.
  • Lanjut usia.
  • Periode menstruasi yang abnormal (amenorrhea).
  • Anorexia nervosa (gangguan makan).

Supaya Tulang Tetap Sehat

  • Kenali berbagai pengobatan yang bisa berpengaruh terhadap kesehatan tulang. Identifikasi dan evaluasi penggunaan obat-obatan yang diketahui dapat menyebabkan keropos tulang.
  • Ubah kebiasaan tidak sehat seperti merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak aktif.
  • Pastikan asupan kalsium sekitar 1000 mg per hari untuk usia 50 tahun dan 1200 mg per hari untuk usia di atas 51 tahun.
  • Pastikan asupan vitamin D yang adekuat. Normalnya, kita mendapat vitamin D yang cukup dari paparan sinar matahari setidaknya 10 menit setiap hari. Jika paparan sinar matahari tidak adekuat, maka asuplah vitamin D yang berasal dari suplemen dengan dosis 400-800 IU. Jangan lebih dari 800 IU per hari.
  • Melakukan latihan angkat beban secara teratur, di mana tulang dan otot bekerja melawan gravitasi. Ini menyangkut olahraga jalan kaki, joging, tenis, naik tangga dan olahraga kelompok. Latihan dengan mesin statis dapat membantu menjaga kepadatan tulang. Olahraga fisik juga memperbaiki keseimbangan dan kesehatan otot. Jika Anda sudah terdiagnosa osteoporosis, maka program latihan yang dilakukan sebaiknya dievaluasi terlebih dahulu oleh dokter Anda
Last Updated ( Sunday, 08 November 2009 07:17 )  

Contact


Silahkan kontak kami disini




Pesan anda


Latest Forum

More...